E-Book
639 artikel
Pengaruh Musik Indonesia pada Musik Prancis Abad ke-20
Patrick Revol
PAMERAN DUNIA tahun 1889 di Paris merupakan pertemuan pertama orang Eropa dengan musik Jawa. Ketakjuban mereka akan Dunia Timur telah ada sejak lama dan pameran besar, yang berulang-ulang diadakan sepanjang abad ke-19, menonjolkan minat menggebu itu. Orang banyak akhirnya dapat melihat, mendengar, merasakan, menyentuh Dunia Timur yang selama ini seolah-olah mitos saja. Sudah menjadi pendapat yang diterima secara umum bahwa Debussy sangat dipengaruhi oleh musik Jawa yang didengarnya dalam pameran tahun 1889 itu. Untuk memahami bagaimana Debussy dapat merasakan musik Jawa dalam Pameran Dunia tahun 1889, kami akan membahas sejumlah reaksi penonton yang akan membantu mengenali mentalitas orang pada ujung abad ke-19. Kemudian kami akan memeriksa karyanya untuk memperlihatkan berbagai aspek yang menurut kami berkaitan dengan musik Jawa. Analisis itu akan menunjukkan pengaruh yang tak terbantah dari gamelan pada caranya mengartikan fenomena musik. Debussy membuka celah, dan banyak musisi Prancis akan ikut menyusup melalui celah tersebut. Seperti pendahulunya, lambat laun generasi musisi mendatang akan menemukan dan memanfaatkan keindahan musik Jawa, Bali, serta berbagai musik Indonesia lainnya.
Selengkapnya →
Living the Uncommon Wisdom
Paulus Bambang WS
PANDEMI COVID-19 membuat setiap orang di seluruh dunia harus menerapkan cara hidup baru, begitu juga setelah wabah ini nantinya hilang. Kebaruan dalam cara berkehidupan juga harus dipikirkan matang-matang oleh, salah satunya, orang-orang yang akan menghadapi masa pensiun. Setelah 38 tahun berkarier di dunia profesional, Paulus Bambang WS memiliki pertanyaan mendasar dalam hatinya: Apa yang dapat dia berikan kepada keluarga, kolega, dan negara di paruh kedua kehidupan? Menjalani masa pensiun berarti juga harus mampu menjadi nakhoda bagi diri sendiri dan tetap memberi kemaslahatan terhadap banyak orang. Buku ini berisi kisah-kisah bijak dengan empat kunci utama untuk menciptakan kebahagiaan dalam hidup, yaitu shifting focus from “just transforming business” to “transforming life to make it more useful” (mengalihkan fokus dari “hanya mentransformasi bisnis” menjadi “mentransformasi hidup agar lebih berguna”), helping young and talented people to grow (membantu para pemuda dan orang-orang bertalenta untuk berkembang), inspiring more people on integrity and positive minds (menginspirasi lebih banyak orang mengenai integritas dan pikiran positif), dan promoting diversity and nationalism to love this country more (mempromosikan keberagaman dan nasionalisme untuk lebih mencintai negeri ini).
Selengkapnya →
Adam, Hawa, dan Durian
Garin Nugroho
Puisi-puisi dalam buku ini ditulis di tengah kerja-kerja seni Garin Nugroho sejak 1990. Adam, Hawa, dan Durian menawarkan cara lain untuk melacak jejak-jejak pengalaman juga kegelisahan Garin sepanjang berkiprah dalam kebudayaan. Dibingkai dalam tema cinta, puisi-puisi dalam buku ini berbicara mengenai berbagai hal penting dalam hidup, menunjukkan betapa besar cinta Garin terhadap kehidupan. “Membaca satu demi satu puisi dalam buku ini rasanya seperti menelusuri perjalanan kreatif, tahapan demi tahapan kelahiran buah pikiran dari keseharian dan kesederhanaan yang kaya akan kontemplasi.” —Sekar Sari, aktor, penari, dan peneliti seni “Bahasa sinematografi Garin Nugroho begitu puitik. Sementara, puisinya terasa sinematik.” —Djenar Maesa Ayu, pekerja seni “Bagi Anda yang ingin merasakan kegelisahan Garin, silakan membaca buku ini sampai tuntas lalu berkaca dan berandai-andai sendiri.” —Putri Ayudya, aktor dan presenter “Gubahan kata-kata yang dengan indah merekam keunikan dari segala yang mungkin kita anggap biasa, menjadi istimewa di ujung pena Garin Nugroho.” —Paul Agusta, filmmaker
Selengkapnya →
Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga
Erni Aladjai
PEMENANG KETIGA SAYEMBARA NOVEL DKJ 2019 . Haniyah mencintai pohon-pohon cengkih, karena tanaman ini bisa berbagi kehidupan dengan tanaman-tanaman lainnya. “Tubuhmu harum cengkih,” kata Ala. “Saya dilahirkan dan mati di dalam hutan cengkih.” --- Di luar Rumah Teteruga, angin utara berembus dingin, kering, dan kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon gandaria dan matoa, menimbulkan suara gesekan di dinding rumah. Ala teringat kata-kata Ido, “Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas.” Dengan pelukisan suasana dan tradisi lokal yang kuat, pemerian karakter yang wajar dan hidup, naskah ini mengedepankan warga desa yang sederhana dalam hidupnya, di tengah pelbagai masalah yang merundung mereka. Novel etnografis ini tidak terjebak untuk sok eksotis, tetapi tampil wajar, termasuk tuturan bahasa Indonesia rasa lokal khas masyarakat setempat. —Catatan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019
Selengkapnya →
Kembali Ke Kampung Adat
Mathius Awoitauw
Buku ini menawarkan kebudayaan sebagai salah satu jalan untuk menyelesaikan berbagai ketegangan di Papua yang berlarut-larut. Mathius Awoitauw, penulis buku yang sekaligus Bupati Jayapura, meyakini, kebudayaan dapat menjadi cara dalam mengelola konflik dan mencegah pecahnya konflik-konflik akibat akumulasi keluhan sekian puluh tahun. Jalan budaya sekaligus membuka ruang lebih lebar bagi berkembangnya penduduk asli Papua. Program “Pengembalian Jati Diri Masyarakat Adat” yang digagas dan dilaksanakan penulis sebagai Bupati Jayapura telah menjadi antitesis dari berbagai pendekatan pembangunan yang dijalankan di Papua selama ini. Dengan program ini, anak-anak Papua dapat menemukan jalan kembali kepada jati diri mereka. Suatu perjalanan pulang kembali pada akar, kembali menemukan siapa diri mereka. Siapakah aku? Nantinya, anak-anak Papua akan dapat menjawab dengan lantang, bukan hanya dalam kata-kata, melainkan dalam perbuatan dan aktivitas mereka sehari-hari.Buku ini penting dibaca oleh semua kalangan yang memiliki perhatian pada Papua.
Selengkapnya →
Membela Hak Ekosob dan Melawan Korupsi
Hendardi
Pembangunan kerap kali berseberangan dengan hak asasi manusia. Hendardi berpendapat, rezim di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia pada masa Orde Baru, cenderung mengatasi masalah tersebut dengan menekan hak sipil dan hak politik masyarakat, terutama di bidang ekonomi. Dia mengatakan, salah satu persoalan akut dalam pembangunan—pengentasan kemiskinan—membutuhkan peran rakyat. Namun, proyek padat modal oleh pemerintah Orde Baru dilaksanakan tanpa partisipasi publik dan kontrol masyarakat. Akibatnya, pembangunan yang dilakukan secara banal menimbulkan masalah baru, seperti soal pertanahan yang cenderung merugikan masyarakat kelas bawah. Kebocoran anggaran juga sering terjadi karena ketiadaan keterbukaan kepada publik. Buku ini merangkai kumpulan artikel Hendardi, mantan Direktur YLBHI, di media massa selama 1993–2014. Tampak, sejak awal sorotan Hendardi tajam terhadap praktik-praktik kebijakan publik yang menguntungkan segelintir kelompok, terutama kroni Soeharto dan keluarganya. Berbagai peristiwa dia bahas dengan pijakan konsisten, bahwa keterbukaan, demokratisasi, dan HAM mutlak diwujudkan oleh pemerintah. Membela Hak Ekosob dan Melawan Korupsi sekaligus menawarkan arah bagi berbagai permasalahan ekonomi, sosial, politik, dan hukum hari ini. Betapa tidak, sebagian pekerjaan rumah masa lalu masih tersisa hingga kini.
Selengkapnya →
Konsolidasi Demokrasi dan Kepemimpinan
Hendardi
Tulisan-tulisan Hendardi yang terangkum dalam buku ini mendokumentasikan dan menganalisis periode sejarah penting ketika Indonesia mengalami perubahan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Dengan gaya-gaya tulisan cenderung lugas, pembaca dengan jernih dapat memahami persoalan yang diajukan. Ambil misal artikel “Interpelasi DPR: Ajang Cuci Baju Kotor”, 29 Juli 2000. Dia menyoroti sidang pengajuan hak interpelasi DPR kepada Presiden Abdurrahman Wahid beberapa hari sebelumnya. Dia menulis, “Ketimbang suatu manifestasi dari kontrol DPR terhadap pemerintah, sidang DPR tersebut telah dijadikan ajang ‘cuci baju kotor’ oleh sebagian partai politik di DPR, terutama Golkar, dengan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai papan bilasnya.” Di tulisan yang sama, dia menyayangkan energi politik yang demikian besar di DPR tidak dikerahkan untuk mendorong perhatian nasional dalam kemelut yang tengah terjadi di Maluku. Maka membaca buku ini terlihat jelas Hendardi memahami dengan cermat isu-isu seputar demokrasi, relasi kekuasaan dan politik, serta kepemimpinan nasional. Sebagai dokumentasi, buku ini sekaligus mengajak kita memahami betapa penting menjaga keberpihakan bagi upaya penguatan masyarakat sipil. Inilah sumbangan Hendardi, aktivis hak asasi manusia (HAM) yang pernah berkiprah di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), lalu mendirikan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) serta Setara Institute.
Selengkapnya →
Rudi Jalak Gugat dan Syair Kebangkitan
Yudhistira ANM Massardi
anak-anak zaman yang slebor merayap di mana-mana tangan muda-mudi yang belum dewasa menggenggam kayu dan besi mereka bergerak memecahkan hari di kota-kota paling depan, Rudi Jalak berselendang giwang di kuping kanan celana blue jeans kemeja komprang Rudi Jalak Gugat merupakan potret perlawanan kaum muda terhadap situasi sosial yang terjadi pada masa Orde Baru, suatu masa yang dianggap pincang dan semrawut. Kumpulan sajak Rudi Jalak Gugat berisi karya-karya Yudhistira ANM Massardi dari 1976–1980 dan terbit pertama kali pada 1982. Sementara kumpulan sajak Syair Kebangkitan, terbit pertama kali pada 1994, berisi karya-karya Yudhistira dari 1983–1993. Kini keduanya diterbitkan sebagai kesatuan karena memiliki ketersambungan tema: perlawanan.
Selengkapnya →
Menulis Kreatif dan Berpikir Filosofis
Ayu Utami & Yulius Tandyanto
Kamu tidak suka teori tapi tetap ingin belajar menulis dan berpikir filosofis? Buku ini: • Mulai dari intuisi, baru beranjak pada abstraksi. • Dimulai dan diakhiri dengan latihan. • Memberi latihan berpikir filosofis dalam terapan di dalam cerita (karya sastra). • Cocok untuk menulis sebagai sarana menemukan dan mengaktualisasikan diri yang otentik. • Membuktikan bahw a kita bisa menulis tanpa harus punya ide yang jelas untuk mulai (sebab menulis justru merupakan proses penjernihan ide). Ayu Utami adalah sastrawan yang mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri, dan mengembangkan metode pengajaran menulis kreatif sejak 2013. Yulius Tandyanto adalah pengajar dan pustakaw an; menyelesaikan S2 di Sekolah Tinggi F ilsafat Driyarkara. Ayu dan Yulius berkolaborasi dalam eksperimen Percakapan Sastra dan F ilsafat yang melibatkan musikalisasi puisi dan teks filosofis modern maupun tradisional.
Selengkapnya →
The Art of Restaurant Review
Kevindra P. Soemantri
Mengulas restoran menjadi kegiatan yang mulai digemari orang Indonesia di kota-kota besar yang memiliki lanskap kuliner modern cukup signifi kan. Sayangnya, sedikit sekali sumber bacaan tentang panduan dasar membuat restaurant review yang baik di Indonesia, sementara siapa pun sekarang melakukannya, baik di Instagram, blog, platform kuliner favorit, atau bahkan You Tube dalam bentuk video. Menulis pengalaman lidah memang asyik. Namun kita perlu memperhati kan bahwa ulasan kita akan berdampak ke objek yang ditulis—pribadi maupun insiti tusi restoran. Oleh sebab itu, diperlukan standar dan pakem-pakem yang bisa mempertajam tulisan tentang kuliner . Buku ini cocok dibaca oleh siapa pun yang tertarik untuk bekerja sebagai jurnalis boga, mereka yang ingin atau sedang menjadi penulis kuliner untuk media, para food blogger yang ingin mempertajam ilmu menulis ulasan restoran, hingga para content creator yang ingin menjadikan restaurant review sebagai bagian dari konten mereka di media sosial.
Selengkapnya →
To Kill the Invisible Killer
FX Rudy Gunawan & Afnan Malay
To Kill the Invisible Killer merupakan kumpulan puisi tematik, nyaris seluruhnya mengangkat tema “melawan Covid-19”—suatu jenis virus yang menjadi wabah dan berhasil melumpuhkan seluruh dunia belakangan ini. Kedua penulisnya, FX Rudy Gunawan dan Afnan Malay, bukanlah sosok yang dikenal sebagai ‘penyair’. Mereka berdua—yang aktif di bidang politik, sosial, dan kebudayaan—mengalami, memaknai, memberikan respons, mencari jalan keluar, menentukan pilihan, atau mengisi kembali ruang-ruang kosong dan terbuka akibat pandemi global tersebut melalui puisi. Buku ini sekaligus meneguhkan kembali betapa puisi, sebagai salah satu bentuk karya sastra, bukan saja menjadi medium kreatif dan saluran respon pribadi, tapi bisa juga berperan sebagai catatan dokumentasi sosial.
Selengkapnya →
Yang Tak Kunjung Usai
Awi Chin
Aku tidak ingin mencintaimu seperti matahari, yang hanya menyinari sedari pagi sampai senja berganti. Aku tidak ingin mencintaimu seperti awan, yang hanya berarak sekejap lalu hilang menjadi hujan. Biarkan aku mencintai seperti sungai, yang terus mengalir dan mengulir menyusuri bantaran takdir. Bahkan saat ia terbelah dan terpecah, arusnya akan terus mengalir sampai ke waktu yang tak kunjung usai. Riak Sungai Kapuas menyimpan cerita. Tentang Saul yang terbuang dari kehidupan perkotaannya, tentang Mey yang ingin segera keluar dari kampungnya, dan tentang Bagas, anak kepala adat Dayak Mualang yang diuji keimanannya. Seperti aliran air yang melarutkan buih, mereka bertiga terbelit dalam kisah cinta yang rumit. “Yang Tak Kunjung Usai berkisah tentang kompleksitas bertumbuh dewasa di sebuah desa di Kalimantan. Pada novel ini, kita bisa melihat kekhawatiran dan gairah dari bagian yang kerap diabaikan pada masyarakat remaja kita.” – Norman Erikson Pasaribu
Selengkapnya →