E-Book
639 artikel
Aku Pasti Bisa [: Berhitung]
Erlita Pratiwi
Beri adalah beruang kecil yang ceria. Ia siap membantumu belajar penambahan dan pengurangan sederhana. Ayo, berlatih berhitung bersama Beri!
Selengkapnya →
Kebalian [: Konstruksi Dialogis Identitas Bali]
Michel Picard
Buku ini menelusuri kembali konstruksi dialogis dari apa yang oleh para intelektual Bali disebut sebagai “kebalian”, yang mereka anggap sebagai pohon, yang akarnya adalah agama, batangnya adalah adat, dan budaya sebagai buahnya. Gerakan perenungan identitas ini berawal dari penaklukan Pulau Bali dan integrasinya ke dalam pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad XX. Gerakan ini hidup kembali setelah kemerdekaan Indonesia, ketika orang Bali harus berjuang keras agar agama mereka diakui oleh negara. Dengan begitu, para reformis Bali berhasil mendefinisikan identitas etnis mereka dalam kaitannya dengan agama Hindu, meskipun mereka harus merelakan agama mereka dirampas agar agama itu dapat diakui. Hinduisasi praktik-praktik keagamaan mereka ini telah menyulut konflik yang berulang antara orang Bali yang ingin melestarikan kekhasan tradisi leluhur mereka dan orang Bali yang berhasrat mereformasi tradisi leluhur ini, menyesuaikan dengan gagasan mereka tentang hinduisme. Jadi, pertanyaannya bukanlah menentukan apakah orang Bali beragama Hindu, jika dahulunya beragama Hindu, bahkan bukan pula jika mereka sedang menjadi Hindu. Tujuan penelitian ini adalah, pertama, untuk menjelaskan sejumlah alasan mengapa orang Bali menjadikan agama Hindu sebagai penanda diakritik “kebalian” mereka dan, kedua, untuk menguraikan berbagai pembentukan ulang identitas yang dihasilkan.
Selengkapnya →
Stop Membaca Berita
Rolf Dobelli
Berita kini ada di mana-mana dalam hidup kita: mulai dari sumber tradisional seperti koran, radio, dan televisi, sampai di internet, media sosial, bahkan bisa masuk lewat percakapan di internet. Kita kini bisa tahu berita dari seluruh dunia, tentang siapa saja, kapan saja, di mana saja, langsung ketika peristiwa terjadi. Namun apakah itu benar-benar bermanfaat bagi kita? Bagaimana kalau melimpahnya berita justru merugikan? Dalam Stop Membaca Berita, Rolf Dobelli menunjukkan apa pengaruh berita bagi ketenangan, kebahagiaan, dan kewarasan kita—dan jangan kaget, menurut Dobelli, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Di antaranya, berita membuat kita khawatir, keliru menilai risiko, tapi tidak membantu kita membuat keputusan ataupun menyampaikan kepedulian dengan tepat. Benarkah demikian? Didasari gagasan filsafat Stoa, Dobelli dalam buku ini menjelaskan mengapa kita disarankan stop mengonsumsi berita, dan apa yang sebaiknya dilakukan agar bisa mendapat pemahaman yang lebih baik daripada melalui berita.
Selengkapnya →
Pasang Surut Arus Kehidupan
Andrie YK
Destiny Reading senantiasa dipelajari dan diteruskan secara turun-temurun sebagai ilmu pengetahuan, dan amat lekat dalam budaya masyarakat China. Setiap rumus, pola pengambilan sampel, cara mem-plotting, hingga interaksi antar elemen merupakan suatu hal yang baku dan berlaku secara universal di mana pun seseorang dilahirkan. Namun Destiny Reading tidak boleh dipraktikkan dengan kaku seperti perhitungan matematika. Tak ubahnya pelukis yang menggoreskan warna demi warna di kanvas, seorang Destiny Reader mestilah berlaku bak seorang seniman dalam menyelami sejarah panjang keilmuan ini. Dengan begitu ia bisa memiliki pengetahuan yang lengkap, tidak terkotak-kotak, dan mencerahkan sehingga mampu memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Pasang Surut Arus Kehidupan berisikan kisah-kisah pilihan bagaimana manusia mengarungi perubahan berdasarkan kacamata Destiny Reading. Sungai kehidupan kadang mengalir tenang dan bersahabat, namun bisa juga deras mematikan. Kadang harus melewati bebatuan curam dengan amat hati-hati, kadang pula melaju mulus tanpa rintangan. Setiap orang hanya bisa menyesuaikan diri pada segala perubahan itu, dan berusaha mengambil keputusan sebaik-baiknya. Yang waspada akan selamat, yang lengah akan tenggelam.
Selengkapnya →
Mempertimbangkan Warisan Arief Budiman
Hamid Basyaib & Kuskridho Ambardi
Tersaji dalam buku kecil ini kenangan sejumlah kawan tentang Arief Budiman, seorang cendekiawan-aktivis yang dihormati dan dicintai para junior maupun rekan seangkatan. Bukan hanya puja-puji, sejumlah kritik juga dilontarkan kepada kakak kandung Soe Hok Gie ini. Termasuk bermacam paradoks yang melekat dalam pribadinya sebagai manusia, makhluk seni, man of literature, dan sebagai seorang ilmuwan. Kendati demikian, semua kritik itu tetap dilandasi rasa hormat dan pengakuan bahwa Almarhum adalah seorang intelektual publik yang jujur. Bahkan mereka yang paling terganggu dengan kritiknya pun harus mengakui satu hal: segala yang dilakukan Arief sebagai cendekiawan-aktivis bukanlah demi kepentingan pribadinya. Banyak saksi tentang sikap tanpa pamrih ini. Membaca buku ini, sedikit-banyak kita akan mengetahui posisi Arief semasa hidupnya yang penuh ketegangan kontestasi dan resistensi. Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa kepribadian seseorang bersegi-banyak, multi-dimensional, dan Arief adalah salah satu contoh penting bagi masyarakat, bangsa, dan politik Indonesia. Dia pemberi inspirasi bagi yang mencintai dan membencinya.
Selengkapnya →
Globalisasi, Ekonomi Konstitusi, dan Nobel Ekonomi
Hendrawan Supratikno
Perdebatan tentang sistem ekonomi nasional sesuai amanat Konstitusi sudah berlangsung sejak lama, terutama setiap kali terjadi pembahasan kebijakan ekonomi. Relevansi perdebatan itu semakin penting di tengah arus globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang menguat. Tidak sedikit kalangan menilai, pilihan kebijakan ekonomi pragmatis yang diambil lebih dari lima dasawarsa terakhir ini—selain mencatat sejumlah kemajuan—bila diukur dengan indikator konvensional seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tidak sepenuhnya mencerminkan amanat dan semangat yang tersurat dan tersirat dalam Konstitusi. Konstitusi Indonesia sejak awal lebih menekankan sistem perekonomian terencana, terutama dalam aspek pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial. Negara diharuskan memiliki peran besar untuk menguasai sumber daya alam dan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Upaya untuk membangun sistem ekonomi pasar terencana—yang terus memelihara cita-cita etis sosialisme—ternyata sangat sulit di tengah gelombang liberalisasi, deregulasi, dan berbagai intervensi propasar. Tampak jelas, kebijakan ekonomi apa pun, termasuk yang paling liberal sekalipun, berusaha dicocok-cocokkan dengan landasan filosofis yang ada dalam Konstitusi. Selain membabarkan pergulatan sistem ekonomi nasional, Globalisasi, Ekonomi Konstitusi, dan Nobel Ekonomi menyertakan berbagai pemikiran para pemenang Nobel Ekonomi yang teori-teorinya sedikit banyak memberi inspirasi pada substansi kebijakan ekonomi di Tanah Air. Buku ini memberi sudut pandang yang dapat memantik keterbukaan dan kejelasan wacana tentang arah perkembangan ekonomi Indonesia ke depan.
Selengkapnya →
Cahaya Discovers the King of Fruits
Michelle Kusuma
Cahaya, a young orang utan, lives in the depth of tropical rainforest. One day, he stumbles upon a very curious looking fruit. It is round, hard as a rock, and full of tiny spikes! But Bunda, his mother, says that it is the King of all Fruits. Will Cahaya be brave enough to taste the spiky rock? What will Cahaya find under its hard spiky skins? What will he discover about the majestic King of all Fruits? The story explores not only about curiosity and risk taking in trying out new things, but also conveys a message that orang utan is a living creature. Like human, they love their mothers, they love playing, they love adventures, and they love to make friends with us, too!
Selengkapnya →
How to Win an Argument
Marcus Tullius Cicero
Marcus Tullius Cicero, salah satu pembicara terbaik segala zaman, sejak kecil terlatih dalam seluk-beluk retorika. Cicero unggul bukan hanya sebagai pembicara publik yang efektif, yang berhasil memenangkan sebagian besar argumen di mana ia terlibat, melainkan juga sebagai teoretikus seni persuasi lisan yang menghasilkan risalah-risalah bertema retorika. Buku ini menyajikan antologi pendek teks Cicero dari risalahnya tentang retorika tersebut. Teks-teks itu berhasil menangkap hakikat sistem retorika klasik tentang persuasi, sebuah sistem yang membantu Cicero dan banyak orator lain menjadi pembicara yang efektif, yang mampu meyakinkan orang, memenangkan argumen, dan mempengaruhi orang lain. Siapa saja yang berpikir tentang seni berbicara di depan umum dan ingin memenangkan argumen akan menemukan sesuatu yang menggairahkan dalam buku ini, dan mungkin akan senang setelah tersadarkan bahwa teknik persuasi lisan yang efektif, yang ditemukan dan dicetuskan ribuan tahun lalu, masih masuk akal dan sangat relevan hingga sekarang.
Selengkapnya →
Dari Jokowi Hingga Pandemi
Eko Sulistyo
Dari Jokowi hingga Pandemi mengajak kita memahami berbagai persoalan politik, sejarah, kebudayaan, legacy, hingga pandemi Covid -19 dari sudut pandang “orang Istana”. Ditulis dengan bahasa renyah dan populer khas tulisan di media massa, penulis berupaya merajut narasi kebangsaan melalui praktik kepemimpinan Joko Widodo, yang mengedepankan rekonsiliasi, politik yang merangkul semua kalangan. Buku ini bukan hanya memberi pengetahuan dan pemahaman atas ragam peristiwa yang terjadi di Tanah Air, melainkan juga mendorong tumbuh kembangnya sikap saling menghargai, terbuka dalam berpikir, menghormati keragaman, dan bersedia untuk saling bekerja sama demi kebaikan bangsa dan negara. ***** “Membaca tulisan -tulisan penulis, terutama seputar kebijakan dan kepemimpinan Jokowi, kita seperti mendapat wawasan dari dalam. Simak saja tulisannya, ‘Lamun Sira Sekti, Aja Mateni’…. Konteks tulisan ini memberi pesan kepemimpinan yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa saat seorang pemimpin mengemban jabatannya, dia tidak boleh semena -mena dan menindas rakyatnya. Tugas pemimpin adalah mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya.” —Sidarto Danusubroto, Dewan Pertimbangan Presiden RI “Daya jelajah isu yang disuguhkan cukup luas, dari praktik politik kekuasaan Jokowi, kontestasi elektoral terutama di Pilpres 2019, hingga masuk ke pusaran polemik isu kontemporer seperti pandemi Covid -19 dan vaksinasi…. Jejak narasi kebangsaan terasa, misalnya, saat memberi penekanan pada bahasan rekonsiliasi…. Sudah tepat jika Mas Eko terus mengingatkan pembaca akan bahaya segregasi, terlebih melalui cara -cara mengeksploitasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan dalam pembelahan warga saat pemilu.” —Dr Gun Gun Heryanto, MSi, Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute; Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta
Selengkapnya →
Tarung Digital
Agus Sudibyo
SEPERTI pedang bermata dua, perkembangan pesat digitalisasi menghadirkan dilema untuk peradaban manusia. Di satu sisi, ia jelas menjadikan hidup manusia lebih dinamis, efisien, dan berwarna. Digitalisasi mampu membuka lebar-lebar semesta pengetahuan, gagasan, dan wacana, serta memperluas jaringan secara melintas batas. Namun di sisi lain, ia juga membawa marabahaya baru yang sulit dikendalikan dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan bersama dan demokrasi. Amerika Serikat, misalnya, sebagai episentrum teknologi digital dunia, telah merasakan negativitas digitalisasi. Operasionalisasi platform media sosial sebagai sarana kampanye politik telah membelah Negeri Paman Sam ke dalam kubu yang saling berhadapan dengan fanatisme, semangat permusuhan, dan kebencian. Pemilu Amerika Serikat 2016 dan 2020 telah menyisakan trauma mendalam untuk publik Amerika, bahkan dunia. Propaganda komputasional menyeruak sebagai enigma baru yang mengentakkan dunia dan mengubah arah politik berbagai negara. Buku Tarung Digital mencoba menjelaskan fenomena propaganda komputasional secara kritis. Mode propaganda ini bersandar pada operasionalisasi algoritma kurasi, analisis big data, serta sistem otomatisasi untuk menyebarkan pesan-pesan politik yang menyesatkan, khususnya melalui jaringan media sosial. Jika negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis kesulitan untuk menghadapi paparan propaganda komputasional, bagaimana dengan Indonesia? Pertanyaan ini perlu direnungkan secara saksama oleh semua pihak yang ingin menyelamatkan Indonesia dari residu-residu demokrasi digital. Tarung Digital adalah buku kedua dari trilogi literasi digital yang disiapkan Agus Sudibyo. Buku pertama yang telah terbit berjudul Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan (2019).
Selengkapnya →
Notulen Cakepp
H.Maman Suherman
Menurut survey saya, NoTulen adalah yang paling tidak ada kerjaan di ILK, karena hanya orang yang benar-benar nganggur yang bisa membuat konklusi dari kengawuran massive dan sistemik seperti di ILK. Dan Maman Suherman menurut saya, orang yang tetap berpikir dengan kesederhanaan berbekal kekayaan pengetahuan dan pengalaman. Dan saya selalu beranggapan, bahwa kita bisa berharap lebih banyak pada orang yang berambut lebih sedikit.... Mikir! Salam Lemper —Cak Lontong (@C_lontong) Notulen: Inti Sari. Inti dari setiap diskusi Sari yang harus diresapi —Denny Chandra (@AA_DeCe) Kalau Soekarno adalah ‘Penyambung Lidah Rakyat’, Kang Maman adalah ‘Penyambung Lidah Panelis’ Indonesia Lawak Klub. Dia bisa menyatukan isi kepala dari akademisi yang pendidikannya ‘pas-pasan’, hasil survey yang ‘diragukan’ dan debat kusir yang tak berkesudahan, menjadi sebuah kalimat notulensi yang cerdas, berisi, dan menyentuh. —Ronal Surapradja (@RockNal) Merangkum obrolan yang tadinya ringan dan seolah kosong, menjadi sebuah renungan yang mengisi sudut otak yang kopong. Bravo Om Notulen!! —Rakhmawatifitri (@fitrop) NoTulen adalah sosok yang selalu terlihat tak “terlibat” dalam diskusi. Namun, sebenarnya menyimak dengan hati dan otaknya tak pernah berhenti mensinkronisasi antara topik bahasan dan banyolan-banyolan panelis, menjadi sebuah konklusi yang tak hanya terdengar indah, tapi juga berirama dengan logika, sehingga meninggalkan makna yang membahana di hati pemirsa. “Kang Maman memang BOTAK (Berisi OTAKnya). Pengalaman dan pengetahuannya selalu dibaginya yang membuka dan menambah wawasan orang-orang yang ngobrol dengannya. Jadi buat Kang Maman, keep BOTAK! —Cici Panda (@Pandasuper) Kalau ditanya lebih tajam mana pedang dengan pena? Semua pasti akan menjawab pedang. Tapi, di tangan Maman Suherman, pena telah berubah menjadi sebilah samurai yang bisa mengiris tanpa melukai, menohok tanpa harus menyodok, membuat airmata menetes tanpa harus menggores. Kalau ada istilah ‘Mulutmu Harimaumu’, untuk Pak Maman, ‘Penamu, Pedangmu!’ —Insan Nur Akbar (@akbar___)
Selengkapnya →
Pantai Pesisir
Noorca M. Massardi
“Bung Noorca sangat hebat, benar-benar multi talenta. rosais, dan penyair yang tadinya berupa magma dalam menggambar, sekarang menjadi erupsi dalam bidang seni rupa. saya selaku pakar seni rupa dan desain iTB, menilainya setaraf dengan para seniman besar lainnya.” —AbAy D. SubArnA, Centre de recherche sur l’Esthéti que de l’Art Musulman “Membaca buku ini, yang masuk pada jiwa saya adalah efek dari tiga bahasa sekaligus, yaitu bahasa-kata, rupa, dan musik—yang saya bunyikan dan rekam sendiri saat membacanya. Yang masuk ke jiwa saya bukan cuma teks, tapi konteks bahasa-kata tersebut dengan bahasa-musik dan bahasa-rupa.” —Sujiwo TEjo, seniman dan budayawan multi talenta “Noorca’s haikus succeed in drawing natural scenery, people’s life, feelings, and his heart with very limited number of words, which means his success in mastering the essence of haiku. as far as i know, this is the first collection of indonesian haiga that has ever published. i cannot but admire Noorca’s effort and achievement.” —KAORU KOCHi, Kanda university of international Studies, Chiba, jepang “Melalui karya ini, pengalaman kita membaca haiku bersama gambar—yang membuatnya semakin utuh—senanti asa memperbarui pengalaman estetis kita. Meskipun Noorca bukan seorang perupa, imajinasi visualnya lincah, segar, tanpa beban, dan menunjukkan kekayaan khazanah pengalaman estetiknya terhadap seni visual.” —CHRISTYAN AS, aktor, pengarang, perupa, dan pemusik “Noorca menggambarkan kata bukan mengatakan gambar. itu cara dia melampaui keterbatasan haiku dan meraih kembali kebebasan menulis tanpa kata-kata. Tentu persepsi seti ap orang berbeda, karena kita ti dak melihat sesuatu apa adanya, akan tetapi seperti siapa kita. Kata-kata memisahkan cipta yang rasional, gambar mendekatkan rasa yang intuitif.” —KEMAL A. SURIANEGARA, pakar ekonomi dan manajemen serta pelatih reiki
Selengkapnya →